Skip navigation

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?” “Haaaaaaaaaaaa? 31 juta seratus empat ribu kali aku harus berdetak?????” kata jam terperanjat, “Mana mungkin saya sanggup! Saya ga akan mungkin bisa untuk melakukan itu.”

“Ya sudah, kalau begitu bagaimana kalau 86,400 kali saja dalam sehari?”

“Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini? Ga, ga, aku ga sanggup ah” jawab jam penuh keraguan.

“Ok kalau gitu, Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?”

Read More »

Eh, judulnya sok2 bahasa Inggris .. alasannya: biarr kereenn :) Padahal antara maksud sebenarnya, dengan penulisan yg benar belum tentu sejalan. Maksud saya begini, kalo dibaca org lain jadi bermakna lain.

Tapi yang ingin aku bilang itu: orang sering ‘menilai’ kita dari titel kita, atau apapun atribut yg menempel, penampilan, gaya bicara, dsb.

Di kantor ku sekarang ini, yang namanya ‘bos’ ga cuman satu. Ada seorang ‘bos’ yg — kebetulan — tidak seberapa mengenalku, begitu semangatnya mengajak aku ngobrol hal2 teknis kerjaan. Ku pikir, “Kok, semangat banget sih ini orang?”

Setelah beberapa kalimat meluncur, baru ketahuan bahwa dia senang bisa kerja bareng aku yg dianggap udah ‘experienced’. Aku berusaha merendah, dan ku bilang bahwa itu cuman ‘title’ di kerjaanku. But, he said something that stroke my mind: “In this business, people believe to your title and that’s what they expect from you.” Ooh, gituu ya..

Jadi, yang mana yg salah? Orang yg ngasih kita title, atau kitanya yg tidak ‘cocok’ dengan title yang diberikan.

Yah, selama title yang diberikan ‘menguntungkan’ kita, entah bagaimana .. aku rasa sih ga ada masalah. Cuman, kadang aku ngerasa capek, sampai ngos2an .. mengejar kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Seperti yang dibilang bos-ku, orang lain (mungkin) mengharapkan sesuatu dari title yang kusandang .. padahal kenyataannya, bagaimana? Kasihan juga orang2 yang sudah terlanjur berharap tadi..

Daripada mengasihani diri .. baiknya tetap semangat kali yah? Semoga title yg kusandang, ga malah jadi bumerang

Taken from milis PengembanganKepribadian

********************************************

Something to share, take a moment to read….it should make you smile as deep in your heart you know that is how we should live our life.

Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apa pun yang kudapatkan.

Kata-kata di atas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia…..

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama : Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tetapi anda masih merasa kurang.

Read More »

Tanggung jawab. Sebenarnya apa maksud kata tersebut?

Apakah, “tanggung jawab saya” .. berarti: saya yang nanggung, saya yang jawab?

Apakah artinya: njawab (kok) tanggung?

Hehehe.. guyon, mas/mbak? Ojo terlalu serius ngonooo, tho!

Tanggung jawab, mendengarnya kok terasa berat banget yah? Misalnya gini: “Sampeyan, sudah menghamili anak saya, mana tanggung jawabnya?” Atau begini, “Hayoo, kamu kan yang ngerusakin barangku, tanggung jawab dong!!!”

Read More »

Dalam sebuah kisah yang terkenal, namun saya tidak ingat sumbernya; diceritakan…..

Pada suatu hari, melintaslah seorang ayah dan anak, dengan seekor kuda. Ketiganya melakukan perjalanan keluar masuk kampung, demi menuju tempat tujuan.

Di persinggahan kampung pertama, mereka mendengar pergunjingan orang:

“Sungguh bodoh, mereka itu.. berjalan kaki jauh, sementara kuda yg mereka miliki hanya dituntun saja”

Mendengarnya, lalu si ayah menggendong anaknya, menaikkannya di atas punggung kuda. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Di kampung berikutnya, lagi2 orang mempergunjingkan mereka:

Read More »

Sering aku terbangun di tengah malam. Hanya karena pikiran2 yg berputar di benakku. Banyak orang mengira aku kurang bersukur di dalam hidup. Tapi aku lebih menganggap, keluhan2 pribadi-ku, sebagai kritikan atas “kenyamanan” hidup yang aku jalani.

Sudah kah aku memilih jalan yang benar?

Aku senang mengutip kalimat yg ku ambil dari film The Matrix:

There’s a difference between, knowing the path and walking the path

Perbedaan antara mengetahui dan menjalani, tentunya semua orang juga tahu. Tapi apakah sudah faham, dan apakah sudah masuk ke tataran praktek? Belum tentu.

Read More »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.